Can’t believe it’s over, i watch the whole thing fall

Sudah sangat lama aku tidak mengunjungi rumah ini. Sudah sangat berdebu lantaran tidak ada yang mengurus. Well, jelas ini semua kesalahanku karena membangun rumah ini tanpa ada komitmen untuk tinggal didalamnya. Yap mari awali bersih-bersih rumah ini dengan sesuatu yang melankolis wkwkwkwk. I just broke up and it hurts like hell. Gila, ternyata benar sakit hati lebih parah dari sakit gigi. Semua terasa hampa, hilang arah, gatau mau kemana, gatau mau nyalahin siapa, gatau mau nyari dukungan ke siapa, pokoknya mati rasa dan tawar hati (bukan tulisannya yang lebay, tapi orangnya). Berhubung rumah ini juga kosong, tidak ada salahnya kalau aku menumpahkan semuanya disini wkwkwk. To you my loved ones, sebenarnya aku bingung sih gimana aku manusia yang sangat paham bagaimana dunia bekerja masih bisa mencintai orang lain dengan cinta sebesar ini. Bodoh memang wkwkwk, mahasiswa ITB yang tabiatnya “rationality over everything” diporak-porandakan dengan balada cinta like an idiot. Masih sangat banyak yang mengganjal dalam pikiranku mengenai akhir hubungan kita. Endingnya cacad, percakapannya semua makai bahasa emosi, pura2 senyum, dan gaada kejujuran disana (eh mungkin aku aja sih). Huh but you sure are an outstanding woman to make me broke my principle. Prinsip “gak akan pernah mau mutusin cewek” yang udah kutanamkan sejak lama hancur di momen aku melihatmu udah sangat capek dengan semua ini. Ungkapan “yok kita coba lagi dari awal” tersendat di tenggorokan karena semua argumen-argumen destruktif waktu itu. Awalnya aku kira mudah karena aku punya alasan untuk membencimu berhubung kau menyerah. Ternyata tidak, itu cuman teori saja. Aku lupa memasukkan variabel kenangan indah dalam rumus cepat move-on ku. Dan ternyata variabel itu faktor pengalinya besar kali. Dan sekarang, aku gatau harus ngapain, merendahkan egoku dan meminta rujuk sebenarnya sangat mudah bagiku (terlepas dari apapun jawabanmu wkwkwk). Tapi faktor “kelelahanmu menjalani hubungan” dan faktor “apa aku siap menjalani hubungan lagi dan kepahitanku” masih sangat mendominasi sehingga melarangku untuk berbuat demikian. Mungkin semua butuh waktu. Aku hanya berharap semoga kau baik-baik saja disana. Untunglah aku hanya membawamu ke rumah ini sekali saja dan saat itu kau tidak terlalu memperhatikan. Sehingga rahasia ini bisa tetap aman diantara ribuan cerita-cerita lainnya. Salam dari aku yang masih mengkalkukasi kemungkinan kita bersama

Iklan

Domba binal yang sesat

Mari awali dengan sepotong lirik dari one of my favorite song. “I’m falling down into my shadow, iki wo hisomete, matteiru deadly night” (I’m falling down into my shadow, Holding my breath, The deadly night is waiting). Yap, tulisan ini akan mendeskripsikan bagaimana aku sangat membenci diriku karena terlalu mencintai diri sendiri. Jujur aku tersesat, ingin kembali ke jalan yang benar tetapi tidak ingin pergi dari jalan yang salah. Aku suka hitam, tapi juga suka putih, padahal bagaimana hitam dan putih dapat bersatu haha. Aku sangat suka membantu orang lain, kata-kata bapakku yang tercetak dipikiranku dari kecil dari sekarang adalah “Hidup ini hanya akan punya makna kalau kita berguna bagi orang lain” dan aku sangat mengimaninya. Tapiiii, aku sangat malas membantu orang lain, selama tidak menguntungkanku untuk apa dilakukan, mendingan aku melakukan aktualisasi diri atau minimal melakukan rekreasi pikiran dibanding harus mengotori tangan untuk hal yang tidak menguntungkan. Aku sering merasa jatuh kedalam kegalapan dan kemudian berpikir bahwa aku adalah kegelapan itu sendiri. Aku paling tak suka melihat seseorang dipojokkan oleh sekerumunan orang sesalah apapun dia. Tapi aku paling suka mengundang semua pikiran negatif dan kekuranganku untuk memojokkan diriku. Akukan anak ITB, IPK hampir pasti 0,2 diatas cum laude sampai lulus, harusnya everything’s gonna be okay. Alah, udah berbuat apa aja sih dikampus, pelayanan setengah-setengah, ikut organisasi masih suam-suam. Kontribusi ke kegiatan non akademik minim. Pr aja masih nyontek, selesai ujian materi langsung lupa. Yakin bakal baik-baik saja? hihi. Ah, capek jadi aku, sering merasa depresi tapi saat ditanya alasannya setengah mati memutar otak untuk mencarinya. Sampai tiba-tiba terbesit di pikiran “Siapa aku?yang mana aku?apa satunya aku dan satunya lagi iblis yang menghantuiku. Atau yang satunya aku dan yang satunya lagi malaikat yang Tuhan kirim untuk menjawab doaku”. Ini membingungkan, yang menulis saja bingung apalagi yang membaca haha. Jujur judul tulisan ini kukutip dari sepotong lirik dari kidung jemaat saat sedang kebaktian pagi ditempat aku melakukan PKL. Tepatnya di kidung jemaat 240 bait yang kedua. Entah kenapa saat membaca frasa ini aku seperti menemukan penjelasan atas kondisiku sekarang. Seolah aku sudah mendapat identitas yang selama ini kucari and thank God for that. Lantas sekarang apa? ingin mencari lebih dalam, ah tapi malas dan seperti buang-buang waktu, laporan KP aja belum ada mulai. Maunya apa sih? gatau kenapa nanya aku haha. Ah udahla, nanti yang baca bingung. Oh ia, KJ 240 itu liriknya adem banget lo. “Yesus cari akan daku, domba binal yang sesat” Tolong temukan aku ya Tuhan, tampar dombamu ini bila perlu. Tapi jangan keras-keras Tuhan, takut luka permanen. Ah kan minta kompromi lagi, dasar bangsat. Udah ah wkwkwk, oh ia ada sepotong lirik yang bagus lagi dari lagu diawal tulisan ini “When you’re lost, here i am forever with your soul” siapa you siapa i nya tidak usah ditanyakan karena penulis juga bingung haha

standard ganda

Belakangan ini aku diusik dengan frasa yang menjadi judul tulisan ini. Ya seperti yang kita semua tau, frasa diatas merupakan akar masalah dari permasalahan yang terjadi baru-baru ini (masalah Ahok, penistaan, dll). Beberapa minggu lalu, seseorang menyindirku karena aku memposting tulisan netral mengenai protagonis di filem “The destruction of Indonesia” wkwkwk. Jujur menjadi netral sangat tidak mengenakkan, kedua kubu membenciku, aku dibilang abu-abu, tidak punya pendirian, dan tidak bisa menentukan sikap. Jujur aku hanya merasa jijik dengan diriku ketika aku memihak disatu kubuh. Aku menduga itu karena rasa empatiku terlalu lebay. Terlalu memaklumi setiap tindakan kedua kubu karena udah sering nonton criminal minds (jadi paham ilmu psikologi dikit2 wkwkwk). Memang benar sih menurutku, semakin kita dalami ilmu psikologi, semakin kita menyadari bahwa tidak ada orang yang memiliki argumen yang bodoh, mereka hanya menggunakan logika mereka untuk berargumen berdasarkan latar belakang mereka. Dan sekarang disinila aku, tersesat dikerumunan orang-orang yang punya pendirian, orang-orang yang tetap memilih satu pilihan meskipun tau pilihan yang mereka pilih ada banyak kekurangannya. Memang benar setiap pilihan ada konsekuensinya, termasuk pilihan “tidak memilih”. Gpp lah ya ngeluh sekali-sekali toh gak akan viral juga wkwkwkwk

objek pemuas hasrat

Belakangan ini seorang tokoh fenomenal hadir memberikan koran topik yang menarik untuk dibaca, memberikan tv video menarik untuk ditonton, dan memberikan masyarakat objek untuk memuaskan hasrat berpendapatnya. Ya siapa lagi kalau bukan dia, cina kafir yang kasar dan tak ada etika bagi sebagian orang, tapi juga manusia suci yang bersih dan berprinsip bagi sebagian orang juga. Tapi tetap saja ada bagian2 kecil dalam diagram pie tentang dia yang memandang dia tidak seperti 2 pandangan diatas. Ya siapa lagi si dia kalau bukan Ahok. Jujur aku memandang dia merupakan seorang tokoh fenomenal yang membuat warna dalam dunia politik diIndonesia. Buktinya semenjak dia hadir, banyak masyarakat yang selama ini tidak tertarik pada politik mulai membuat status2 tentang politik. Apalagi, ada bumbu2 menarik dalam perjalanan tokoh fenomenal ini, sebut saja 2 bumbu yang paling terasa kalahnya dia dalam pilkada DKI dan vonis hukuman 2 tahun penjara yang diberikan akibat penistaan agama. Hmm, mari mulai dengan pandanganku tentang dia. Jujur aku memandang dia sebagai salah satu sosok yang paling mendekati sempurna yang pernah aku temui dan aku sempat mau menjadikannya idola. Tapi, untungnya aku tersadar akan prinsipku yang mengatakan “jangan pernah mengidolakan manusia, karena kau hanya akan kecewa seberat-beratnya ketka ternyata dia tidak seperti yang kau bayangkan” . Hal yang menyadarkanku adalah saat aku mendengar berita bahwa setelah pilkada dia tidak akan mau terjun ke dunia politik lagi. Jujur aku sempat kecewa disana, aku kira urat “kekecewaan”nya sudah putus, karena urat “takut” dan urat “ingin bahagia” sepertinya sudah putus dari lama Oleh karena itu aku memilih untuk melihatnya sebagai contoh manusia yang baik saja tanpa mengagungkan atau mengidolakannya (mungkin kalian bingung ya apa bedanya wkwkwk). Anyway ya paling gitu aja sih tentang Ahok. Oh ia, doaku selalu besertamu pak Ahok dan keluarga, semangat menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia, Tuhan berkati selalu. Sekarang, mari kita bicara mengenai fansnya ahok yang rata2 seagama dengan saya, karena sepertinya kurang bijaksana bagi saya untuk membicarakan kaum kontra ahok karena saya tidak terlalu mengerti ajaran mereka. Yang bisa saya katakan adalah saya kecewa dengan sebagian orang kristen yang mendukung ahok dengan cara yang salah (menurut saya). Terlalu panjang kalau dibicarakan sejak pilkada DKI jadi mari kita bicarakan sejak ahok dijatuhi hukuman penjara. Saya bingung dengan orang yang membuat status “ahok yang udah baik selama ini, cuman salah ngomong sedikit aja langsung dipenjara, harusnya tangkap dulu si ***** ****** yang sudah menghina Yesus dan juga menghina indonesia itu” . Jelas ini pendapat yang cacat logika menurut saya. Apakah gara2 Ahok udah berbuat baik lantas dia tidak pantas dihukum? atau apakah karena orang yang berbuat lebih jahat belum tertangkap seharusnya orang yang salah sedikit saja harusnya dilepaskan dari hukuman? tentu saja tidak. Hukum berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali, itu jawabanku buat pertanyaan pertama. Seharusnya daripada berusaha melepaskan orang yang salah sedikit saja, kita lebih fokus untuk menangkap orang yang kita nilai lebih bersalah agar dia mendapat hukuman yang setimpal juga untuk perbuatannya, itu jawabanku buat pertanyaan yang kedua. Tetapi, memang banyak dari kaum ahokers (pendukung ahok) yang menganggap bahwa ahok tidak menista agama dan tidak berbuat kesalahan. Aku pribadi jelas berpikir bahwa dia bersalah karena dia udah mengatakan sesuatu yang tidak terlalu dia ketahui dan telah menjadi pedoman hidup orang banyak. Itu bisa menjadi kejahatan “penyesatan publik” menurut saya. Tapi aku tau jika ahokers membaca 2 kalimat diatas kalimat ini dia pasti akan kesal sama saya haha. Penyebab itu semua adalah kurangnya empati di kaum kita. Kita gak pernah memposisikan diri diposisi mereka sehingga kita tidak bisa memahami betapa merasa terhinanya mereka. Yasudahla kita skip aja bagian itu karena bakal terlalu panjang jika dibahas dan aku mager nulis juga wkwkwkwk. Hal lain yang aku komentari dari ahokers adalah orang-orang yang bangga ngeshare foto komentar orang dari negara lain yang mengatakan betapa bobroknya Indonesia, apalagi yang makai caption #RIPINDONESIA. Yaampun, ini negara kalian lo kok dengan bangga sih ngepost kayak gitu, sambil makai sarkasme2 lagi. Ayo dong kita perbaiki negara kita ini jangan makin nambah post2 kayak gitu. Apasih dampak positif yang akan didapat dari ngeshare2 kayak gitu. Tiba2 semua orang jadi sependapat gitu? atau gara2 postmu Ahok langsung dibebaskan? tentu saja enggak, yang bakal muncul cuman perdebatan yang gak akan berujung dan mengakibatkan perpecahan yang semakin besar. Kalau kalian memang gak suka dengan hukum diIndonesia, coba cari action apa yang dapat memperbaikinya atau kalau emang mau buat status gunakanlah kalimat yang lebih tidak provokatif agar dapat diterima oleh semua orang. Satu hal yang paling aku takutkan untuk orang kristen adalah, banyak dari mereka yang terlalu mengidolakan Ahok. Aku cuman takut kejatuhan iman kristen akan terjadi saat ahok ternyata tidak seperti yang kita bayangkan (walaupun kemungkinannya sangat kecil). Intinya jangan jadikan Ahok sebagai objek pemuas hasratmu. Udah dulu ah capek banget nulis, mau dota dulu wkwkwkwk. Oh ia ini ada tulisan yang mungkin bisa memberi gambaran tentang pandanganku yang mungkin terlalu malas untuk aku tulis haha https://www.inspirasi.co/fahdpahdepie/30049_indonesia-bukan-ahok-

sepertinya aku yang salah konsep

hmm, mari awali tulisan ini dengan pertanyaan retorika. Apakah salah mempertahankan hubungan meskipun pasangan kita memiliki pola pikir yang sangat berbeda dengan kita? . Aku sudah banyak melihat pasangan yang menggunakan kata “berbeda” untuk mengakhiri suatu hubungan. “Kita memang berbeda”, “kita udah ga cocok lagi”, “maaf aku gabisa maklumin kamu lagi” itu kata-kata yang sering mereka ucapkan. Jujur, aku sering mencaci pasangan-pasangan yang putus karena hal tersebut. “Bilang aja udah gak sayang”, “Bilang aja udah ada yang lain”, “udah malas berkomitmen ya?” itu kata-kata yang selalu ada didalam benakku. Bukan bermaksud untuk membanggakan diri, tapi meskipun aku sangat membenci diriku karena kekurangan-kekuranganku, satu hal yang membuat aku bangga adalah kesetiaanku dalam menjalin hubungan. Aku dapat mengatakan hal ini karena aku telah melihat berbagai rumput yang jauh lebih hijau dipagar sekitar, tapi tak pernah sekalipun aku memutuskan untuk pindah. Selain itu, meskipun saat kami mengalami konflik, ditengah kekesalanku aku tak pernah lupa untuk mendoakaanya secara khusus kepada Tuhan yang mempersatukan kami sampai sekarang, menurutku itu parameter yang jelas bahwa aku sangat mencintainya. Itulah yang membuat meskipun banyak yang mengatakan “kau hanya menyiksa dirimu, kalian itu memang udah gak cocok” dan lain-lain, aku tetap berusaha mencitai doi sampai habis (semaksimal mungkin) karena aku percaya cinta dapat meng”overcome” segala perbedaan. Dia pada awalnya juga begitu, tapi belakangan dia berubah. Mulai muncul keraguan dalam dirinya bahkan sampai ragu bahwa aku adalah orang yang menjadi pasangannya di pernikahan nanti. Ya jujur aku sangat kecewa akan hal itu, apa gunanya berpacaran jika tidak punya keyakinan bahwa pasanganmulah yang akan kau bawa ke pernikahan? “tapi ya sudahlah aku hanya harus meyakinkannya”, itu yang ada dalam benakku waktu itu. Tapi semua berubah beberapa hari lalu. Aku terbangun dan berpikir “ngapain sih aku selama ini? berusaha menyatukan 2 kepingan puzzle yang tidak sinkron tanpa memperdulikan dampaknya terhadap kepingan puzzle tersebut”. Disitu aku mulai mempertanyakan segala komitmenku, mempertanyakan apakah aku berada dijalan yang benar, apakah beberapa perbedaan tidak akan bisa diatasi oleh cinta, dan pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keraguan lainnya. Bahkan sepertinya pertanyaan retorika diawal tulisan ini bukanlah pertanyaan retorika lagi, melainkan harus dijawab secara kontekstual. Entahlah, sepertinya selama ini aku yang salah konsep

finding motivation to end this semester

Well, jujur semester ini tak terasa begitu cepat berlalu. Semester yang katanya salah satu semester paling menyita nafas di semesterku. Jujur aku bahkan tak menyadari ini sudah minggu terakhir kuliah, apa mungkin karena “robot mode” yang kupasang diawal semester sehingga waktu terasa lebih cepat berlalu. Ya robot mode, mode yang kuputuskan untuk kugunakan semester ini karena tidak dapat menemukan motivasi yang tepat untuk mengerjakan semester ini sepenuh hati. Setelah ambis mendapatkan IP 4 disemester lalu (yang ternyata kurang 0,3 karena 1 nilai BC di kuliah 3 sks yang aku tak tau kenapa), motivasiku seolah terkuras abis. Mungkin kepahitan, mungkin saja kejenuhan. Terlalu banyak alasan yang membuat aku tak ingin berjuang disemester ini. Tapi ya tetap saja, bukan berarti bermalas-malasan dan tak memperdulikan studiku semester ini. Aku mengerjakan semua tugas dan ujian sebaik yang kubisa, hanya saja tidak menaruh hatiku disana. Passion belajar hal baru serasa lenyap begitu saja dan semua terasa seperti beban. Mungkin salah satu faktor pendukungnya adalah kisah romansaku yang tak berjalan begitu baik semester ini. Ah tidak, itu cuman pembenaran dan aku malu pernah menjadikannya alasan. Atau mungkin kekosongan mulai mengkonsumsi semua motivasiku dan menggerogoti semangat berjuangku kali ya wkwkkw

Kosong

Awal dari tulisan ini hanyalah kekosongan. Kekosongan yang tak sanggup diredam dan menggebu-gebu untuk dicurahkan. Penuh dengan kekosongan akan membuatku menyadari, bahwa aku hanyalah wadah kosong yang hampir tumpah. Mungkin tulisan-tulisan di blog ini selanjutnya akan berisi mengenai pandangan kosong mengenai berbagai hal fana didunia ini, selamat menikmati kepenuhan akan pendapat-pendapat kosong yang ada pada blog ini